Merantau ( Anak ) Zaman "Now" ( Bahasa INDO-MI )

naik pesawat

Merantau (Marantau), sebuah tradisi yang selalu ditekuni oleh setiap orang daerah mana pun dari dahulu sampai sekarang. Banyak faktor yang mendorong orang-orang untuk pergi dari tempat asal atau kelahirannya menuju tempat lain. Diantaranya faktor tradisi atau budaya dari suatu kelompok etnis, juga ada faktor ekonomi, pendidikan dan faktor peperangan.

Ramainya Bandar Malaka pada abad 15 dan 16 mengakibatkan Malaka jadi tujuan perantauan dari bermacam etnis di Nusantara. Sampai saat ini keturunan dari para perantau itu masih teridentifikasi dengan jelas. Di Malaka dan sekitarnya bahkan di wilayah lainnya di Malaysia bisa ditemukan komunitas keturunan Minangkabau, Jawa, Banjar, Bawean (di Malaka lazim disebut orang Boyan) dan etnis-etnis lainnya dari Nusantara. Karena pada masa itu Malaka adalah pusat perdagangan, maka bisa dipahami bahwa faktor ekonomilah yang mendorong orang-orang untuk merantau ke Malaka.

Pada abad-abad sebelumnya, pelabuhan Barus juga pernah menjadi pusat perdagangan. Pada awalnya perdagangan di Barus didominasi oleh orang-orang Tamil dari India, yang menjadikan Barus semacam koloni India untuk menguasai perdagangan hasil-hasil alam dari Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Dominasi Tamil terhadap perdagangan di Barus baru bisa dipatahkan oleh pedagang Minangkabau sekitar abad 14 dan 15 dengan dukungan kerajaan Pagaruyung. Barus juga sudah jadi tujuan perantauan dari etnis lain di nusantara sebelum adanya Bandar Malaka.

Pada masa-masa berikutnya Timur Tengah juga menjadi tujuan perantauan bagi orang-orang dari Nusantara. Banyak orang-orang dari berbagai etnis merantau menuntut ilmu agama, yang dikemudian hari menjadi ulama-ulama besar di tanah air. Pada masa kolonial, Belanda juga jadi tujuan perantauan bagi pelajar-pelajar Hindia Belanda. Tidak sedikit di antara mereka akhirnya menjadi orang-orang terdepan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam hal ini tentu kita pahami faktor pendidikanlah yang mendorong orang pergi merantau.

Saat ini, pada zaman globalisasi, tujuan perantauan bagi orang-orang Indonesia sudah sangat beragam. Untuk tujuan pendidikan maupun ekonomi orang bisa pergi atau merantau kemana saja di bagian dunia ini. Tidak sedikit orang-orang Indonesia yang merantau ke Malaysia, Australia, Eropa bahkan Amerika Serikat dengan berbagai macam tujuan dan motivasinya.

Mengenai aspek perantauan dalam negeri, pembangunan yang tidak merata dan lebih terpusat di kota-kota besar, membuat banyak orang Indonesia dari berbagai etnis pergi merantau terutama ke pulau Jawa untuk mencari pekerjaan atau pendidikan yang lebih baik. Para perantau ini, terutama yang beragama Islam, memiliki tradisi untuk mudik setiap tahun untuk merayakan lebaran. Hal ini dapat diamati dari kenaikan arus penumpang sistem transportasi umum.

"Marantau" sesungguhnya tak bisa dipisahkan dari masyarakat Minangkabau. Asal usul kata "marantau" itu sendiri berasal dari bahasa dan budaya Minangkabau yaitu "rantau". Rantau pada awalnya bermakna : wilayah wilayah yang berada di luar wilayah inti Minangkabau (tempat awal mula peradaban Minangkabau). Peradaban Minangkabau mengalami beberapa periode atau pasang surut. Wilayah inti itu disebut "darek" (darat) atau Luhak nan Tigo. Aktifitas orang orang dari wilayah inti ke wilayah luar disebut "marantau" atau pergi ke wilayah rantau. Lama kelamaan wilayah rantau pun jadi wilayah Minangkabau. Akhirnya wilayah rantau menjadi semakin jauh dan luas, bahkan pada zaman modern sekarang ini wilayah rantau orang Minangkabau bisa disebut di seluruh dunia, walaupun wilayah tersebut tak akan mungkin masuk kategori wilayah Minangkabau namun tetap disebut "rantau". Filosofi dan tujuan "merantau" orang Minang berbeda dengan imigrasi, urbanisasi, atau transmigrasi yang dilakukan kelompok lain.

Banyak orang dari berbagai suku atau etnis yang merantau, di antaranya yang fenomenal adalah kaum Minangkabau. Seorang laki laki Minangkabau saat menginjak usia dewasa muda (20-30 tahun) sudah didorong pergi merantau oleh kultur / budaya adat Minangkabau yang dianut suku tersebut sejak dulu kala, entah kapan bermulanya tak bisa diketahui secara pasti. Tapi setidaknya berdasarkan sejarah yang masih bisa ditelusuri sekitar abad ke 7 orang orang atau pedagang Minangkabau berperan besar dalam pendirian kerajaan Melayu di wilayah Jambi sekarang yang pada zamannya berada pada posisi yang strategis dalam perdagangan di Selat Malaka atau Asia Tenggara umumnya.

Namun bagaimana dengan sekarang? Pada zaman sekarang merantau masih banyak dilakukan oleh laki-laki Minang, tak hanya berfokus pada laki-laki, namun perempuan saat ini juga sudah banyak yang merantau. Tapi saat ini saya akan mengulas untuk zaman dulu dan zaman "Now"

Pada orang zaman dahulu, merantau merupakan sebuah kebanggaan orang-orang Minangkabau. Pergi merantau dan menjauh dari kampung halaman agar nasib bisa berubah meskipun tanpa arah dan tujauan, ditambah lagi tanpa modal. Sesampai di rantau, mungkin kita akan mengandalkan pada sebuah kepercayaan pada orang-orang yang kita temukan di rantau. Merantau zaman dahulu mau tidak kita harus menggunakan transportasi umum, namun tak dipungkiri juga ada yang menggunakan transportasi barang/sembako.

Melakukan perjalanan dari tanah Sumatera ke tanah Jawa melalui darat mempunyai kesan tersendiri, apalagi jika sudah melakukan penyeberangan kapal laut antara Bakauheni menuju Merak, "disitu mako jatuah si aia mato". Dalam hati mungkin akan berpikir "Saya tidak akan pulang kalau belum sukses".

Namun bagaimana dengan merantau anak zaman "now"?. Jika kita mengacu pada zaman dahulu dan saat sekarang memang jauh berbeda. Tansportasi udara yang murah membuat mereka seperti terlena. Alasan orang dulu merantau ingin berubah dan cari pengalaman di rantau, namun anak zaman Now bukan pengalaman di rantau yang mereka cari tapi pengalaman naik pesawat. Setelah beberapa hari atau bulan di rantau, mereka rindu suasana kampung akhirnya mereka minta pulang.

Anak zaman "Now" merantau saat ini hanya ingin dibilang wah saja oleh teman-teman mereka di kampung dan "belagak" pernah ke daerah tertentu. Jika boleh "mengupat", sebenarnya mereka sudah tunggu beres dan sudah tenang dan tidak susah seperti si "Bos" sebelum jadi apa-apa. Bahkan ada yang ditampung oleh saudara, paman, bibi, kawan dll, bahkan ada yang membawa modal dari kampung yang dikasih orang tua mereka.

Nah, bagi anda yang ingin membawa anak zaman "now" ke rantau untuk tolong berjualan, silahkan pikir-pikir dahulu, jika nekad ingin bawa mereka, siapkan biaya transportasi mereka pulang-pergi, kalau saya tak terkaha dek saya doh. Dan untuk alternatif lain, mendingan silahkan cari orang yang sudah "marasai" di rantau.

by: AnakAmak

0 Comments