Bahasa Minang: "Bahasa Ibu" Yang Terkikis Demi Sebuah Ambisi

Bahasa Minang merupakan bahasa sehari-hari orang di wilayah Sumatera Barat seperti saya. Bahasa ini bisa dibilang bahasa yang hampir tersebar di setiap pelosok negeri. Kenapa setiap pelosok negeri? Ya, bahasa ini dibawa oleh perantau Minang yang notabene-nya ada di setiap daerah. Dari sisi fenomenal-nya jika dibandingkan dengan bahasa lain mungkin bahasa ini belumlah seberapa, namun jika dilihat dari asal usul dan proses penyebarannya, bahasa ini patut diperhitungkan. Akan tetapi, mampukah bahasa ini terus bertahan di generasi berikutnya?

Dalam pembahasan kali ini saya sedikit membahas bahasa Minang ini, meskipun ada yang sudah membahas, namun kali ini kita berikan suatu yang berbeda. Karena kebetulan istri saya juga kuliah jurusan bahasa di Universitas Negeri Padang (UNP). Jadi sedikit-sedikit "di-kuliah-in" juga karena saking nyinyirnya saya bertanya.

Dilihat dari asal usulnya, Bahasa Minang merupakan Rumpun bahasa Austronesia (atau kadang disebut "bahasa kepulauan") adalah sebuah rumpun bahasa yang sangat luas penyebarannya di dunia. Dari Taiwan dan Hawaii di ujung utara sampai Selandia Baru (Aotearoa) di ujung selatan dan dari Madagaskar di ujung barat sampai Pulau Paskah (Rapanui) di ujung timur.

Bahasa Mingkabau

Kebanyakan bahasa-bahasa Austronesia tidak mempunyai sejarah panjang dalam bentuk tertulis, sehingga upaya untuk merekonstruksi bentuk-bentuk yang lebih awal, yaitu sampai pada Proto-Austronesia, menjadi lebih sulit. Prasasti tertua dalam bahasa Cham, yaitu Prasasti Dong Yen Chau yang diperkirakan dibuat pada abad ke-4 Masehi, sekaligus merupakan contoh bukti tertulis tertua pula bagi rumpun bahasa Austronesia.

Namun tahukah anda? Bahasa, budaya dan adat Minangkabau bukan hanya menyebar dalam wilayah NKRI saja. Bahkan ke negara tetangga, namun kebanyakan dibawa perantau yang sudah turun temurun disana. Saat ini saya tidak akan membahas yang jauh-jauh, ambil saja contoh Negeri Sembilan adalah sebuah negeri/bahagian dalam persekutuan Malaysia. Negeri Sembilan adalah rantau jauh orang Minang. 4 raja yang terawal didatangkan khusus dari Pagaruyung. Berdirinya Republik Indonesia membuat Negeri Sembilan satu-satunya kesultanan yg masih mengamalkan sistem Matrilineal (garis keturunan Ibu).

Selain itu, pada catatan saya sebelumnya, saya pernah membahas Kerabat Jauh Orang Minangkabau Di Indonesia Timur, yaitu tentang orang Minangkabau yang terdampar/singgah di Warebo, Flores yang sampai saat ini masih terjaga. Meskipun sang nenek Moyang sudah tidak ada, namun setidaknya mereka adalah darah dari putra putri Minangkabau meskipun bahasa berbeda.

Saat ini orang/masyarakat Minang sendiri tak sedikit beralih bahasa. Masyarakat yang punya jumlah penutur banyak tidak menjamin bahwa bahasa ibunya akan sehat kalau sikap orang tua atau masyarakat tidak positif dan secara aktif untuk mewariskan bahasa ibunya kepada anak-anak mereka. Ranah keluarga adalah tempat pertama untuk mentransmisikan bahasa tersebut. Apa jadinya nanti beberapa tahun kedepan generasi muda mengatakan mereka bangga menjadi seorang anak Minang, tetapi tidak bisa berbahasa ibunya sendiri, bahasa ibu adalah identitas kita.

Banyak yang terjadi sekarang, contohnya anak muda Minang yang saat ini meninggalkan bahasa Minang itu sendiri. Mereka mengganggap bahasa Minang tidak penting, karena ada kecenderungan bahwa menguasai bahasa nasional atau internasioanal akan membuat mereka lebih berhasil dalam pendidikannya. Yakin?

Namun dalam ulasan ini saya hanya memberi sebuah catatan jika anda ingin berfasih dalam bahasa Indonesia, silahkan tekuni dengan benar. Namun jika anda melafazkan seperti INDOMI (Indonesia Minang), lebih baik pergunakan saja bahasa daerah kita.

NOTE: "Saya tidak ada pakai bahasa IndoMi do, salah dengar kamu tu"

Nah, itu ulasan kita tentang bahasa Minang, sebagai perantau saya lebih suka menggunakan bahasa Minang setiap orang Minang yang saya temui, namun terkadang mereka sendiri yang suka melafazkan bahasa Indonesia meskipun logat tidak bisa dibohongi.

0 Comments