"Lamang", Makanan Yang Tak Lekang Oleh Waktu


Lemang adalah penganan dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang. Gulungan daun pisang berisi beras ketan dicampur santan kelapa ini kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang. Lemang lebih nikmat disantap hangat-hangat. Cara mengonsumsi lemang berbeda-beda dari daerah ke daerah. Ada yang senang menikmatinya dengan cara manis (ditambah selai, kinca, serikaya) atau dengan cara asin (rendang, telur, dan lauk-pauk lainnya), atau ada juga yang memakannya dengan buah-buahan seperti durian.

Lemang dijadikan makanan perayaan oleh suku Dayak yang disajikan pada pesta-pesta adat mereka. Bagi suku Melayu, lemang biasa disantap saat hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Ulun Lampung di sebelah pesisir menjadi lemang sebagai penganan Lebaran dan kue adat. Orang Minangkabau juga menyukai lemang, bahkan kota seperti Tebing Tinggi dikenal dengan julukan "Kota Lemang". Lemang juga merupakan makanan orang asli Negrito yang ada di Kelantan  dan suku Semai.

Lemang juga merupakan penganan khas legendaris masyarakat Samarinda yang diproduksi dan diperdagangkan oleh orang-orang Banjar di Jalan Pulau Sebatik, Samarinda.

Namun kali ini saya tidak akan membahas daerah lain meskipun setiap daerah mempunyai lemang tersendiri, Tapi saya akan membahas khusus daerah Minangkabau ( Sumatera Barat ).

Dari dahulu hingga kini Lamang menjadi ciri khas makanan sebagian orang Sumatera Barat saat hari-hari kebesaran tertentu seperti Idul Fitri Dan Idul Adha. Jika ibu saya sebagai kokinya, beliau akan membuat Lamang ini bisa 4x setahun, seperti: awal bulan Ramadhan, jelang Idul Fitri, Idul Adha dan bulan Maulud. Namun untuk sebagian orang pada saat ini, Lemang sudah jarang mereka membuat sendiri melainkan membelinya di pasar. Tapi Lamang sendiri juga jadi tradisi adat pernikahan orang Minang yang biasa disebut "Ma Anta Lamang".

Saat ini Lamang sudah banyak variannya. Pada awalnya, Lamang hanya dibuat dengan beras ketan putih dan merah, varian lemang saat ini ada juga yang dicampur dengan pisang (Lamang Pisang) dan ada juga yang khusus menggunakan Labu ( Lamang Kundua).

Proses pembuatan Lamang memang dinilai sebagian orang sangat sulit, mulai dari waktu yang lama, bahan bakar kayu dan sampai bahan bakunya.

Untuk perantau Minang yang ada di daerah tertentu yang ingin sekali mencicipi Lamang, saat ini juga ada yang menjualnya meskipun belum semuanya. Namun bagi perantau Minang yang mencakup wilayah Bandung, saat ini anda sudah bisa menikamati Lamang tersebut. Untuk lokasinya anda bisa mencarinya di Jalan Asia Afrika tepatnya Jalan Cikapundung Barat. Biasanya penjual Lamang ini buka dari jam 3 sore sampai jam 9 malam. Bagi anda yang penasaran akan Lamang ini, anda bisa langsung beli disana.

0 Comments