Prestise Yang "Mengancam"


Singkat padat dan merayap. Judul yang kita bahas adalah tentang "Prestise". Namun sebelum kita membahasnya, apakah itu Prestise?

Prestise memiliki beberapa pengertian, yaitu prestise Sosiologi, Ekonomi dan Barang. Dan pada kesempatan kali ini, kita akan membahas beberapa Prestise tersebut.

Prestise adalah sebuah kehormatan, wibawa dan lebih cenderung pada sebuah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang membuat dirinya menjadi berbeda dalam pengertian mewah dari orang lain yang ada disekitarnya.

Dalam prestise ekonomi dan sosiologi, mungkin sudah lumrah kita melihat disekitar kita banyak orang-orang yang memiliki kekayaan dengan hidup yang mewah. Status sosial , kehormatan dan kedudukan yang dimiliki oleh orang tersebut, tak lebih tak kurang karena mereka ingin  memiliki unsur-unsur yang lebih tinggi, supaya dihormati, dan diistimewakan oleh orang lain. Bagaimana contohnya dan pembuktiannya?

Saat anda ingin ke tempat yang memiliki prestise ekonomi yang tinggi, semua orang pasti akan melihat penampilan anda, seperti: Anda ingin membeli mobil, tapi anda menggunakan sepeda, sudah pasti yang punya showroom akan melayani anda setengah hati bahkan mengabaikan. Atau memakai baju compang - camping dan terlihat kumal, bisa jadi akan mendapat perlakuan yang berbeda dengan seseorang yang datang dengan mengenakan dasi.

Lantas, bagaimana dengan Prestise barang?

Sebenarnya yang ingin saya bahas dalam catatan saya kali ini memang untuk prestise barang. Bagaimana sih contohnya pertise barang ini?

Untuk tipe ini, mungkin banyak kita temui orang-orang disekitar kita yang memiliki sifat perstise barang. Saat kebanyakan orang hanya ingin minum kopi sachet dengan harga Rp. 1000/cangkir. Dan tidak sedikit orang yang ingin minum kopi di sebuah "Coffe Shop" dengan harga Rp. 50.000. Walau rasa tak jauh beda, tetapi mereka rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk kata 'prestise'. Supaya dianggap WAH, kaya, dan berkelas.

Sebenarnya, untuk masalah minum kopi saja, kebanyakan orang mampu dan mau minum kopi sachet saja, namun disatu sisi lainnya, semuanya hanya menerapkan prisip Prestise (Sosiologi/Ekonomi).

Lantas, bagaimana jika seseorang tidak mempunyai Perstise ekonomi dan sosiologi namun ingin prestise barang?

Menurut pandangan hemat saya, kondisi ini sangat memprihatinkan. Kenapa tidak, disaat banyak hal yang lebih diperlukan dari prestise tersebut, namun kita lebih utamakan sesuatu yang sebenarnya tidak begitu penting/ ugent. Hanya untuk dianggap "WOW" tanpa memikirkan sesuatu hal yang lain yang lebih dibutuhkan. Hal ini lebih banyak kita temui pada anak muda yang suka dengan kehidupan glamor tanpa memikirkan orang tua mereka yang entah darimana dapatkan biaya untuk penuhi kebutuhan mereka. Tak jarang kita temukan seorang anak yang tidak ingin sekolah karena tidak dibelikan motor oleh orang tuanya. Sedangkan buat orang tua mereka untuk makan saja susah.

Untuk contoh lain, banyak masyarakat Indonesia ini yang konsumtif. Saat mereka menginginkan barang-barang yang bermerk yang sebenarnya "Tidak Diperlukan" karena hanya ingin sebuah pengakuan. Belanja disebuah Mall ternama, sedangkan di pasar, kita mampu membelinya dengan harga yang lebih murah.

Saat teman anda memerkan pakaian mereka yang memiliki brand ternama dengan harga jutaan rupiah, sedangkan tidak ada bedanya dengan celana 100-an saat dipakai. Mungkin ini contoh terakhir dalam prestise barang. Bagaimana? sudah pahamkan tentang "Perstise".

Pada dasarnya, Perstise boleh-boleh saja, namun kita harus memikirkan aspek-aspek lain yang perlu kita pertimbangan. Jangan gara-gara Perstise semuanya dikorban.

Mungkin inilah zaman dimana orang lebih suka "Pengakuan" daripada "Pernyataan".

Terima Kasih

0 Comments