Ketika Iba Berganti Rasa


"Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat. (HR Muslim)"

“Sayangilah orang-orang di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu”. [HR. Tirmidzi]

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka (HR Ahmad)

“Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah.” (HR Bukhari)

"Dan pada harta-harta mereka (orang2 mampu/kaya) ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (Adz-Dzariyat:19).

Mungkin itulah beberapa Hadist yang menganjurkan kita untuk memiliki rasa sosial yang tinggi terhadap sesama, contohnya membeli dagangan bapak-bapak atau kakek-kakek yang sudah uzur.

Dari dulu hingga kini, mungkin saya salah seseorang yang merasa iba melihat orang tua (uzur) masih mengais rezeki dengan cara berjualan. Baik berupa buah-buahan, main-mainan anak, bahkan sampai keperluan rumah tangga. Setiap ada kesempatan jika barang tersebut juga merupakan barang yang saya butuhkan atau sebenarnya tidak butuh - butuh banget bahkan sebelumnya tidak direncakan sama sekali, saya sempatkan untuk membelinya. Namun, apakah itu membantu mereka? Mudah - mudahan jawaban Ya.

Akhir-akhir ini memang banyak tersebar di media sosial tentang penjual (renta) yang diekspos oleh media sosial, bahkan juga di media televisi. Alhasil, penjual yang sudah uzur ini makin lama makin menjamur. Saya pribadi cukup apresiasi semangat mereka, namun apakah semuanya real? adakah yang bermain di belakang mereka?

Dalam kasus ini, saya perlu mempertanyakan anak-anak mereka pada kemana? tak bisa dipungkiri, anak-anak mereka juga selalu menyuruh orang tua mereka berjualan apa pun itu. Soalnya mereka ingin memanfaatkan rasa iba orang-orang terhadap orang tua mereka agar makin banyak dapatkan pundi-pundi rupiah di atas rasa iba. Kita tidak dianjurkan su'uzon dalam hal ini, karena beramal tetaplah beramal, iklas dan jangan mengharap imbalan.

Beberapa bulan yang lalu, inilah kisah saya ketika bertemu dengan seorang penjual renta yang memiliki pengalaman tersendiri. Pengalaman ini tak hanya sekali atau dua kali.

Pada suatu kesempatan, saya pernah melihat bapak-bapak renta yang menjual pisang panggul di tengah derasnya rintik hujan. Tubuhnya yang basah kuyub dan sudah uzur membuat kami iba, kami kembali putar balik dan menyusul bapak tersebut. Meskipun tidak terlalu membutuhkan, namun rasa iba itu membuat saya ingin membeli. Sempat saya ultimatum istri saya agar tidak menawar meskipun sang kakek mematok harga berapa pun. Namun setelah sampai dan akan membelinya, sang bapak mematok harga yang mengejutkan diluar perkiraan kami.Setelah pisang tersebut dimasukan ke dalam kantong plastik, sang Bapak pun menyebutkan harga. Harganya adalah Rp. 50.000/2kg, berarti kalau dikalkulasikan, harga yang dipatok dalam 1 kg-nya adalah Rp.25.000. Saya hanya bisa tersenyum, keiklasan tergoncang untuk sesaat. Kemudian berusaha mencari keseimbangan agar keikhlasan itu tidak collapse dan ingat beramal tak memandang harga. Inikah yang disebut Iba Yang Berganti Rasa?

Sebenarnya saya tidak permasalahkan harga tersebut. Mungkin memang sudah rezeki bapak tersebut. namun suatu yang sulit diterima adalah, Apakah bapak tersebut memanfaatkan rasa iba untuk mendapatkan keuntungan?. Padahal kami tahu harga wajar untuk harga pisang 1 kg itu hanya Rp 7.000,- mentok -mentok ya 10 ribu atau 15 ribu. Jika misalnya bapak tersebut memberikan harga wajar dengan Rp. 7.000/Kg, saya sendiri tidak akan tinggal diam untuk memberikan harga Rp.10.000/Kg atau lebih. Namun kalau sudah begini, jawaban saya hanya tersenyum ketir. Tarik dan genggam kembali iklasmu agar tak menghilangkan pahalamu.

Dalam catatan ini, saya tidak nge-Judge setiap pedagang uzur itu sama. Masih banyak yang murni untuk hanya mencari sesuap nasi. Semoga ini tidak akan merubah sifat kita untuk tidak menjadi orang yang mempunyai rasa sosial yang tinggi bagi yang membutuhkan.

Anda punya pengalaman yang sama?

0 Comments