Ketika Aku Dibesarkan Dengan Harta


Harta memang dibutuhkan dalam kehidupan ini, harta juga bisa membuat kehidupan terasa nyaman dan tenang, apapun yang kita inginkan akan selalu tercapai. Namun, tak sedikit juga harta membuat hidup kita sengsara dengan keberadaannya.

Dalam pembahasan saya kali ini, saya akan memberi judul dalam bahasan tersebut "KETIKA AKU DIBESARKAN DENGAN HARTA". 

Menjadi orang kaya memang menjadi impian dan kebanggan semua orang. Tak sedikit orang melakukan apapun untuk menjadi kaya tersebut. Setelah "Kaya" itu berada pada kita yang menginginkannya, kita sendiri ingin kembali meneruskan kekayaan tersebut pada keturunan kita (anak) sampai kapanpun. Inilah yang akan kita bahas yaitu "memberikan title kaya" kepada anak.

Alasan orang tua yang ingin memberikan kekayaan tersebut kepada anaknya bukanlah tanpa alasan. Ingin melihat anak bahagia adalah inti semuanya. Oke, kita ingin melihat anak kita bahagia dengan mewariskan kekayaan itu, namun pertanyaannnya, mampukah dia?

Secara umum, banyak orang tua yang memanjakan anak mereka dengan sebuah harta. Bagus memang! Tapi, disinilah awal petaka tersebut dimulai, ketika orang tua "mencangkok" anak mereka dengan harta yang mereka punya, tapi tidak dibarengi dengan kemandirian dalam menjalani hidup. Sampai kapankah? Apakah harta orang tua tersebut akan menjamin kehidupan anak tersebut sampai mereka punya anak lagi saat orang tua mereka telah tiada?

Hidup dirantau orang mungkin sudah 17 tahun saya jalani. Mengambil pepatah orang Minang yang berbunyi "Alam Takambang Jadi Guru" (Alam terbentang jadi Guru) selalu dianut. Banyak disekeliling saya yang menerapkan "Ketika Aku Dibesarkan Dengan Harta" yang saya temui.



Ketika orang tua mereka kaya dan orang tua tersebut telah memberikan jaminan hidup beberapa petak tanah dan kontrakan yang berjejeran serta membagikan rata harta tersebut kepada anak-anak mereka sebelum ajal menjemput keduanya. Ketika orang tua mereka sudah meninggal, sang anak tak sabar untuk menjual harta yang mereka miliki, dengan alasan kurang uang. Karena ketika orang tua mereka hidup, "pencangkokkan harta" yang tak terhindarkan dan selalu memamanjakan mereka dengan harta, alhasil ketika orang tua mereka sudah tidak ada, canggung pun merajalela. Jual menjual sudah tak terelakkan lagi.

Ketika uang sudah banyak, rasa ingin menjadi orang kaya kembali mencuat, menghambur - hamburkan uang kesana kemari, beli ini dan beli itu serta sampai nikah lagi dan lagi.  Dan pada akhirnya uang habis, peninggalan orang tua pun sirna. Kita mau apa lagi? Secara dari kecil kita tidak dihadapkan dengan sebuah kemandirian dari orang tua, Ilmu pun tiada. Akhirnya, MERANA!

Dari percontohan diatas, sebagai orang tua, kita tidak hanya memanjakan mereka (anak) dengan harta yang kita punya, namun kemandirian yang terutama. Banyak orang tua dulu berkata "Orang kaya tidak bisa hidup tanpa harta, Namun orang miskin tak bisa hidup tanpa ke-Mandiri-an". Namun, tidak ada salahnya kita mengKOLABORASIkan keduanya. Kaya perlu, Madiri juga perlu.


Terima Kasih

0 Comments