Kerabat Jauh Orang Minangkabau Di Indonesia Timur




Sekian lama dalam menelisik dan mencari informasi kesana-kesini, akhirnya saya mendapatkan sebuah jawaban yang mungkin belum banyak orang tahu, bahkan orang Sumatera Barat sendiri.

Suatu hari saya sedang mendengarkan lagu Minang melalui Youtube. ketika saya mendengarkan lagu tersebut, saya masih penasaran akan musiknya, karena saya belum pernah mendengarkan lagu tersebut sebelumnya. Ketika alunan lagu yang sedang bergema, datang seorang teman yang sudah cukup lama berteman dengannya, dia berasal dari daerah Ende, flores Nusa Tenggara Timur. Sambil bercanda dia hanya bilang "Suka Lagu Padang Juga da?". Sontak saya ngeles dan bilang "Ini lagu Padang" sahutku. Dan dia hanya bilang kalau musiknya adalah musik daerah Flores. Berikut lagunya.



Setelah lagu habis, obrolan panjang pun mulai bergulir dan dia bilang jika orang padang itu punya kedekatan khusus dengan orang Nusa Tenggara Timur.

Mendengar ucapannya, saya tidak langsung percaya saja. Saya mencari berbagai sumber kenapa ada hubungan orang padang dengan orang Nusa Tenggara Timur tepatnya daerah Waerebo. Pada akhirnya, saya menemukan sebuah catatan dalam sebuah Blog sebagai berikut.

Catatan:
Harival Zayuka
Bandung-Jawa Barat

Suatu kesempatan terbaik untuk saya bisa bercengkrama dengan keindahan Waerebo, desa adat diatas awannya Flores. Waerebo merupakan dusun terpencil di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ini adalah perjalanan perdana saya dan tim #AnakMamaGakPulang3Minggu mengelilingi Flores, perjalanan terjauh dari rumah, dan sekaligus salah satu perjalanan yang berkesan. Kenapa berkesan? karena setelah mendengar cerita Pak Saleh (guide yang saya jumpai di tengah perjalanan&trekking), nenek moyang Waerebo asli dari Minangkabau, dan saya pemuda berdarahkan minang yang diberikan kesempatan mengunjungi warisan budaya ini.
Tepat pukul 16:00 WITA, saya dan tim sampai di Desa Denge, desa terakhir yang bisa di jangkau oleh kendaraan jika mau berkunjung ke Waerebo. Udara sejuk disana sejenak menyemangati raga ini yang sedikit lelah karna melewati jalan Flores yang lika-liku, tidur sebentar bangun-bangun sudah di tepi sawah, tidur lagi nanti nya bangun sudah di pantai, bangun lagi disampingnya jurang, begitulah Flores jika dijalani dengan overland. Dan hanya sebatas itu yang dapat saya lakukan selama 5 jam perjalanan dalam mobil. Turun dari mobil, liat lingkungan sekitar sepi dan tidak ada aktivitas,  kisaran lima menit setelah itu, sebuah mobilavanza yang berhenti tepat dibelakang kami, dan mereka adalah pengunjung luar yang berasal dari France yang hendak trekking ke Waerebo sore itu. Saya menyempatkan untuk berbincang dengan bule itu, dan ternyata mereka sudah memesan guide yang akan bantu menunjukkan jalan selama trekking, its mean, saya dan tim #AnakMamaGakPulang3Mingggu tidak usah sewa lagi, hanya karena bermodalkan basa basi dan sikap sopan.

Akhirnya, saya harus buru-buru ambil keril dan perkakas lainnya untuk trekking karena sudah semakin sore. Langkah kaki pun di percepat dari biasa nya. Melewati sungai, hutan, jalan setapak dan kadang bebatuan kecil runcing menjadi hal yang biasa dalam perjalanan kali ini. Dan uniknya, air sungai disini bisa langsung diminum. Dalam artian, air sungai nya sangat jernih dan Saya tidak takut apabila kehabisan bekal air minum. Tidak terasa sudah satu setengah jam perjalanan, langit sudah mulai gelap, dan di jalan itu saya dan tim bertemu dengan rombongan ibu-ibu muda dari Jakarta yang sebelumnya sempat lirik-lirikan di Pulau Kelor. Lagi-lagi sedikit basa basi, dan kenalan. Saya sempat ketawa karena celotehan mereka yang heran dengan langkah kaki kami, mereka memulai trekking dari jam 13:00 WITA dan saat itu sudah menunjukkan jam 17:30 WITA, artinya mereka butuh waktu 4,5 jam untuk sampai dititik pertemuan saat itu, sedangkan kami hanya butuh waktu 1.5 jam. Perbandingan yang begitu kontras tentunya.
Sesampai Pos Pemantau Desa Waerebo, pengunjung diharuskan membunyikan lonceng dari bambu beberapa kali yang menandakan kepada penduduk desa kalau ada tamu yang akan datang. Dan saya sempat ternganga melihat keindahaan yang terpampang nyata didepan mata. Melihat damainya Desa Waerebo dari ketinggian dan unik nya Mbaru Niang. Mbaru Niang adalah rumah adat berbentuk kerucut beratapkan ijuk yang tingginya mencapai 15 meter dan memiliki 5 lantai. Dari ketinggian 1100 Mdpl, rumah-rumah kerucut itu membuat decak kagum akan sebuah budaya yang unik dan luhur. Dan dari penjelasan Pak Saleh, saya mengetahui bahwa dahulunya, orang Minangkabau-lah yang mendirikan kampung disini. Mereka nenek moyang Waerebo, saya sendiri kaget karna saya pemuda yang 100% berdarah minang, dari kecil sampai umur 18 tahun saya di lahirkan dan dibesarkan di ranah minang, dan sekarang saya berada di desa tempat nenek moyang saya pernah singgah.

Alkisah nenek moyang Waerebo adalah Empo Maro. Empo Maro berasalah dari daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Empo Baro bersama beberapa kerabatnya berlayar dari kampung halaman dan berlabuh di tanah Flores. Makanya, saya tidak begitu heran kalau di Flores banyak orang Minangkabau yang merantau . Terbukti dengan banyaknya Rumah Masakan Padang dimana-mana. Dikisahkan Empo Maro berpindah dari kampung satu ke kampung lainnya hingga akhirnya menetap di Waerebo. Sampai saat ini, tidak diketahui kapan waktu tepatnya Empo Maro tiba di Waerebo dan memulai kehidupan disana. Saya dan tim pun turun dari pos, menuju gerbang Waerebo.

Sesampai gerbang kami sempat bingung mau kemana karna Pak Saleh sudah duluan memasuki salah satu Mbaru Niang. Kebingungan kami, sempat terlihat oleh salah satu pemuka adat disana, dan dengan senyumannya yang begitu berkharisma, badan hitam legam, gigi putih, beliau mempersilahkan saya memasuki Mbaru Niang. Di dalam mbaru niang kami harus menjalani upacara adat. Ternyata didalam itu sudah ada rombongan ibu-ibu dan bule bule tadi. Mereka sudah asik berbincang satu sama lainnya.

“Namun, Empo Maro saat tidur mendapat ilham melalui seekor musang yang menyuruhnya untuk berpindah ke tempat lain diarah timur” tutur Pak Saleh mengakhiri ceritanya. Ada mitos selama proses upacara adat, kita dilarang mendokumentasikan segala sesuatu nya karna dipercaya setelah mengabadikannya semua foto-foto itu akan hilang atau bahkan kamera nya akan rusak. Sungguh desa adat yang masih sangat kental dengan kepercayaan yang dianutnya.

Setelah upacara adat penyambutan, disajikan makan malam dan secangkir kopi. Memang, kopi asli Waerebo tidak ada duanya. Penutup malam yang indah. Esok pagi, saya terbangun dan siap-siap menikmati penjelajahan di Desa Adat Waerebo ini. Diawali dengan kehangatan mentari muncul dari balik bukit, sinar itu menyinari ketujuh Mbaru Niang bagaikan cahaya surga diatas kesempurnaan budaya dan menjadikan semua ini landscape yang begitu menggoda untuk diabadikan. Keramahtamahan dan senyum penduduk disana, keceriaan anak-anak, dan kegiatan gotong-royong mereka menjemur biji kopi pun tak lepas dan jepretan kamera saya.

Saya sempat terduduk sejenak, sambil merenungi upacara adat semalam. Setelah saya perhatikan lebih jauh, apa yg di katakan Pak Saleh menjadi pertanyaan dalam benak saya. Jika memang benar asal penduduk Waerebo dari suku Minangkabau, saya belum bisa melihat adanya kesamaan dengan daerah kelahiran saya. Di Minangkabau, upacara-upacara pemujaan roh atau arwah leluhur sudah tidak dilakukan lagi, hal ini karena kentalnya pengaruh ajaran islam. Sementara di Waerebo, pemujaan roh seperti ini nampak nya sudah menjadi keseharian mereka, perbedaan ini bisa saja terjadi karena letak geografis serta pengaruh budaya yang berbeda. Minangkabau berada di posisi strategis dalam pelayaran dan perdagangan di jaman kolonialisme sehingga banyak budaya yang mempengaruhinya.

Sementara Waerebo masih kental dengan nuansa animisme dan dinamisme, hal ini bisa terjadi karena letak desa Waerebo yang terpencil, sehingga belum ada sentuhan budaya lain yang mempengaruhi masyarakatnya . Namun hal ini yang menjadikan nilai plus dari Waerebo. Kedekatan masyarakatnya terhadap alam dan bagaimana mereka menjaga lingkungannya agar tetap lestari. Hal ini juga menjadi poin penting untuk saya.

Peradaban yang baik bukanlah tentang seberapa maju teknologinya, tapi seberapa mampu masyarakatnya menjaga alam yang telah di titipkan kepadanya. Saya sangat merasa senang menjadi salah satu orang Minangkabau yang menginjakkan kaki di sini. Mengetahui bahwa Waerebo adalah kerabat jauh kami, membuat saya merasa mengunjungi rumah keluarga sendiri. Keramahan serta kesantunan Suku Waerebo membuat saya merasa hangat serasa pulang ke kampung halaman saya, Minangkabau. Namun dengan sedikit perbedaan yaitu, orang-orang nya yang masih sangat akrab dengan alam dan belum tercampur pengaruh globalisasi. Sementara di Minangkabau sebagian besar daerah nya sudah sarat dengan pengaruh globalisasi.

Perjalanan ini membuat saya sadar, bahwa orang-orang di berbagai belahan dunia harus melihat keindahan ini. Surga kecil yang di simpan Indonesia di atas tanahnya yang indah mempesona. Dunia harus tahu bahwa Indonesia memiliki pariwisata yang patut di acungi jempol. Namun, harapan saya adalah, ketika Wae Rebo sudah menjadi destinasi pariwisata yang mendunia, semua keindahan dan keasrian yang dimiliki Wae Rebo tidak berkurang dan hilang, semoga masyarakatnya tetap kukuh mempertahankan adat dan alam mereka, serta wisatawan yang berkunjung tidak merusak dan menghilangkan keasrian Wae Rebo yang indah ini. Dan disini di Desa Wae Rebo, Nusa Tenggara Timur saya menanam cinta akan keindahaan budaya nya. Saya sangat kagum dengan kerahmatamahan penduduknya. Ini lah Indonesia.

0 Comments